Minggu, 07 Februari 2016

Dia Bintang

Dia pria yang aneh. Lucu. Kadang menyebalkan.

Bukan kadang, sih. Justru sangat-sangat menyebalkan. Sok cuek sekali.

Pemalas. Benar-benar pemalas. Tapi aku sangat tahu, begitu ada sesuatu yang menarik hatinya, atau ada sesuatu yang membuatnya merasa terpacu, dia benar-benar melakukannya dengan sepenuh hati. Dia cukup ambisius di mataku. Bahkan dia sendiri pun mungkin tidak sadar dengan hal itu.

Apalagi, ya?

Begitu banyak hal yang tidak bisa kujabarkan satu persatu tentangnya. Terlalu banyak hal yang ingin aku ceritakan, namun berujung kupendam sendiri. Dia adalah seseorang yang selalu ingin kudengar kisahnya, orang yang selalu ingin kutatap matanya dalam-dalam, orang yang selalu ingin aku ajak kemanapun tempat yang menyenangkan, berbagi apapun dengannya. Meskipun itu hal yang menyedihkan, semuanya tidak akan terasa seperti apa yang seharusnya. Begitu pun dengan rasa bahagia. Dia mengajarkanku bagaimana caranya berbahagia dengan sederhana. Dia juga terus mengingatkanku bahwa rasa sedih itu akan ada dan membuatku percaya bahwa kita akan tetap baik-baik saja karenanya.

Dan terus saja, semua yang ia ajarkan, semua kesederhanaan yang ada padanya berhasil membuatku jatuh cinta setiap harinya. Dalam diam pun rasa itu terus saja berbunga. Kalaupun suatu saat bunga itu layu, sosoknya tahu bagaimana cara ia menanam bibit itu kembali. Dia selalu berhasil. Meskipun hanya dengan mendengar kabar tentangnya, atau mendengar suaranya, atau bahkan secara tidak sengaja bertemu dengannya dalam mimpi, aku akan terus jatuh cinta padanya. Berulang-ulang.

Dia adalah bintang. Benda langit yang memancarkan cahayanya sendiri, seperti matahari. Senyumnya manis, apalagi tawa lebarnya. Sebab dengan seperti itu, ia akan tampak lebih seperti bintang atau matahari, membuat siapapun yang melihatnya merasa hangat. Tak terkecuali aku. Sampai kapanpun, senyuman itu akan menjadi favoritku. Aku ingin melihatnya sekali lagi, dan terus, lagi, hingga akhirnya aku yang akan menjadi salah satu alasannya tersenyum. Dengan begitu, aku pun menjadi tahu, bahwa aku adalah bulan untuknya. Menjadi benda langit yang hanya bisa memancarkan cahaya miliknya. Membuatnya ikut sadar, jika ia bersinar, maka aku pun begitu.

Belum cukup puas bercerita tentangnya. Aku tidak tahu bagaimana caraku mengatakan bahwa dirinya begitu berarti buatku, atau sebesar apa aku mencintainya, sebesar apa ketakutanku dan ke-tidaksiapanku untuk kehilangan sosoknya, semuanya begitu sulit untuk dituangkan dalam sebuah kalimat. Semua tentangnya adalah buku yang selalu ingin kubaca. Aku mencintainya sebagai dirinya, yang tidak akan terlihat berubah sampai kapanpun, seperti perasaanku padanya.


Jumat, 05 Februari 2016

Hujan dan Langit

Kadang aku berpendapat bahwa hujan dapat meredam semuanya. Membasahi dan membersihkan apa yang bahkan tidak dapat dikikis oleh waktu. Namun di sisi lain, hujan adalah sebuah perkara sulit. Ia tidak menyembuhkan apa-apa.

Suara itu, suara hujan, kembali meredam senandung kecilku dan meninggalkan jejak basah di rok seragam sekolahku. Aku mencoba ikut memikirkan apa yang sedang dirasakan olehnya sampai-sampai ia bersedih dan terlihat sangat marah. Ia, langit, tidak bisa henti-hentinya menangis dan bergemuruh. 

Maafkan aku. Dengan pikiranku yang sedikit kalut, kali ini aku tidak bisa memikirkan apapun tentang hujan seperti biasanya. Ia sudah cukup menorehkan luka.

Sebab mereka sangat ajaib. Air-air itu seakan memiliki sihir. Menyeretku kembali pada ruang waktu, kemudian mengingatkanku pada hal yang tidak sepatutnya diingat. Sungguh, bukan maksudku untuk menghindari apapun. Hanya saja segala memori yang datang dan pergi, terasa begitu halus dan menyakitkan. Perlahan tapi pasti, entah dari arah mana, tiba-tiba saja ia menamparku. Begitulah pengandaiannya. Tapi aku hanya melebih-lebihkan, jadi lupakan saja. Intinya hujan itu sangat menyakitkan.

Aku masih berdiri di depan koridor sekolah. Sedikit berharap ada seseorang yang meminjamkan payungnya untukku. Atau bisa saja, setelah aku membawa pulang payung itu, aku akan bertemu dengannya lagi besok.

Klise, bukan? Salahkan hujan. Mengapa karenanya semua menjadi begitu melankolis?

Jam menunjukkan pukul 5 sore. Kalau aku tidak segera pulang, aku akan melewatkan makan malam favoritku hari ini. Ditambah lagi, Ibuku yang mudah khawatir itu akan memasang wajah cemberutnya nanti. Mungkin pada awalnya itu tampak menggemaskan, tapi sungguh, itu pertanda buruk!

Dengan meneguhkan hati, aku pun memejamkan mataku. Otakku penuh dengan perdebatan antara iya dan tidak. Antara aku harus memikirkan konsekuensi atau justru membiarkannya mengalir begitu saja. Berusaha tidak peduli, yang penting aku bisa pulang sekarang. Aku lebih tidak bisa membayangkan bagaimana Ibuku menangis karena khawatir ataupun makanan favoritku menangis karena tidak dimakan.

Aku pun membuka mataku, kemudian melangkahkan kakiku dari lantai koridor sekolah. Tidak peduli sepatuku akan basah nantinya. Tidak peduli bagaimana jika aku terjatuh di kubangan berlumpur mana saja. Tidak peduli apakah aku akan terkena flu atau tidak. Aku ingin pulang. 

Aku berteriak dan mencoba berlari menembus hujan. Tapi gagal. Ada sesuatu yang menahan tasku, lalu menarikku sehingga aku terjungkal dan jatuh ke belakang.

Sora. Lagi-lagi dia berulah. Aku melotot sebal dan mendorongnya dengan kesal.

“Minggir! Aku ingin pulang!” bentakku padanya dan mulai mencoba berlari menembus hujan.

Ucapanku tidak digubris olehnya. Ia justru kembali menahan tasku dan menarikku lebih jauh. Untung saja kali ini aku masih bisa berdiri di atas kedua kakiku. Tapi perlakuannya itu sungguh membuatku kesal.

“Di sini saja. Masih hujan, tuh.” Gumamnya tanpa melihatku. Ia masih memandang kosong ke arah hujan.

Aku mendengus.

“aku ingin pulang.” Ucapku lagi.

Ia menoleh padaku dan menaikkan satu alisnya.

“Masih hujan.” Tukasnya.

“Pulang!”

“Hujan.”

“Pulaaang!” teriakku padanya.

Ia pun hanya menghela napas, kemudian memasukkan satu tangannya ke dalam saku jaket biru dongkernya. Ia kembali memandangi hujan.

Hening. Tidak ada siapapun di antara kami yang berminat untuk memulai percakapan. Mungkin ia sudah tenggelam dalam pikirannya. Sedangkan aku, hanya melihat punggungnya yang terhalang tas sekolahnya. Aku menerka apa yang sedang dipandangnya, atau, bagaimana ekspresinya saat ini ketika melihat hujan? Apa terlihat sendu sepertiku? Apa ia punya kenangan pahit dengan hujan? Dibanding itu, sebenarnya aku lebih tertarik dengan punggung miliknya.

Punggung itu pernah menopangku. Aku yang dulu pernah terjatuh dari tangga, pernah digendong olehnya. Aku masih ingat bagaimana kakiku yang terkilir dan susah untuk dibuat berjalan, ia datang dengan berlari untuk membantuku berjalan. Dan Sora, yang kukenal sebagai orang yang tidak sabaran, akhirnya memutuskan untuk menggendongku menuju UKS karena tidak sanggup menungguku berjalan dengan sangat pelan. Aku juga masih sangat ingat bagaimana harum rambutnya. Aroma jeruk. Aku tidak tahu shampoo macam apa yang sudah dipakainya, tapi aromanya sungguh menyenangkan.

Aku pun tahu bahwa jeruk adalah buah favoritnya juga. Kala itu, jam istirahat pertama setelah pelajaran olahraga, aku lupa membawa bekalku. Sora datang memberikanku kotak bekalnya.

“Makan lah! Aku tidak suka lauknya.” Ucapnya.

Tentu saja aku marah karena aku tahu ia berbohong. Selama ini ia menyiapkan bekalnya sendiri. Tidak mungkin jika ia tidak menyukai lauk yang sudah ia buat sendiri, bukan? Ia pun memintaku untuk menyuapinya. Lagi-lagi aku marah. Dan ia pun hanya tertawa dan memberiku jeruk.

“Aku lebih suka stroberi.” Ungkapku ketus.

Ia hanya tertawa.

“Aku suka jeruk. Jeruk atau stroberi, yang penting kamu tidak mengeluh lapar lagi.” Katanya. Ia meletakkan buah jeruk itu di atas kepalaku. “awas jatuh,” lanjutnya, yang kemudian tersenyum dan meninggalkanku.

Aku tidak mengerti mengapa aku diberi buah jeruk olehnya. Apa buah jeruk bisa menunda lapar? Apalagi dengan senyum itu. Aku tidak tahu mengapa senyumnya tampak sangat berbeda. Dan, yah, aku lebih tidak mengerti, apa aku pernah mengeluh lapar di depannya?

“hei.” Sapanya. Ia membuyarkan semua lamunanku tentangnya.

Dengan posisi yang tidak berubah, dengan masih memandang hujan, ia mencoba memulai percakapan denganku.

“Aku tahu perihal hujan.” Ungkapnya.

Aku terdiam. Mataku melebar mendengar itu. Padahal sudah kututup rapat-rapat sehingga tidak ada siapapun yang bisa menyadarinya. Lagipula perasaan itu sudah sangat lama. Perasaan yang kuatur sedemikian rupa sehingga tampak sudah menguap dan hilang, kini ia jabarkan dengan gamblang di depanku. Aku berusaha lupa dengan bersikap bahwa aku sudah lupa. Ia mengatakannya dengan halus, tapi aku tahu ke mana inti pembicaraan ini.

“Tahu apa?”

Aku pura-pura tidak tahu saja. Toh, ia tidak melihatku tepat di kedua mataku. Ia tidak akan tahu bahwa aku berbohong atau tidak, bukan?

“Kouu.”

Mataku melebar untuk kedua kalinya. Pandanganku mulai mengabur. Punggung Sora dan hujan, aku tidak bisa membedakannya. Sontak aku mengusap kedua mataku  yang mulai basah entah karena apa. Sungguh, aku tidak ingin mengakui bahwa ini air mata. Apalagi hanya karena mendengar nama itu. Aku tidak menangis. Kouu, yang berarti hujan, aku sangat heran mengapa nama itu terdengar sangat menyakitkan saat diucapkan bersamaan dengan suara hujan.

Aku tidak mau mengingatnya. Aku sudah lupa. Aku berusaha mengatakan bahwa aku sudah lupa. Memori itu, membuat dadaku terasa sakit dan beku. Untuk beberapa saat ia tidak berdetak. Tapi untuk beberapa saat, ia menyentak sangat keras. Kau tahu? Perasaanku sudah beku, keras, terasa tidak berdenyut. Tapi perih itu masih sangat betah bersemayam di dalamnya. Membuatku menerka, kehangatan macam apa yang bisa melelehkan semua ini? Kecuali jika itu hujan. Ia akan luntur terbawa hujan. Kubilang hujan adalah perkara sulit. Tapi nyatanya, hujan yang kuharapkan untuk melunturkan hati yang beku, kini sudah tak ada lagi di tempat yang sama.

“Memangnya apa yang kamu lihat dari berandalan itu?” tanyanya. Ia membalikkan badannya dan menatapku tajam.

Aku mencoba memahami pertanyaannya. Kedua mata itu membuatku ikut memikirkan apa yang sedang dirasakan olehnya sampai-sampai ia bersedih dan terlihat sangat marah. Aku pun tidak tahu. Seharusnya aku menjawab apa? Hatiku mengatakan bahwa aku mencintai Kouu, tapi otakku sama sekali tidak menyetujui perasaan itu. Jadi, apa yang harus kukatakan? Pada akhirnya, aku tidak punya alasan mengenai bagaimana caraku mencintai Kouu, meskipun ia seseorang yang begitu jelek kesannya.

Sora menghela napas. Merasa sangat bersalah telah bertanya, ia menggaruk belakang kepalanya.

“aku hanya bertanya. Jadi... yah, tidak usah dipikirkan terlalu jauh.” Akunya sambil tersenyum kikuk.
 
Aku tahu. Aku tahu ia berbohong. Jika bukan begitu, lalu apa arti tatapan tajamnya? Lalu apa arti pandangan matanya yang begitu sendu ketika menyadari perilakuku yang sedang kalut? Sangat tidak adil jika hanya ia yang bisa membaca perasaanku. Aku pun tahu, bagaimana ia merasa sedih dan sangat marah, dan coba ia sembunyikan dari tatapan sendu dan tajam itu.

Aku menunduk dan meraih ujung jaketnya.

“itu sudah sangat lama. Memangnya ada ya seorang gadis yang mencintai seorang pria sebegitu lamanya?”

Aku menengadahkan kepalaku. Memandang kedua matanya satu persatu untuk meyakinkan bahwa semua perasaan kalut yang diasumsikan Sora adalah salah. Semuanya salah. Bahkan aku pun berusaha mengatur cerita bahwa selama ini aku tidak mengenal Kouu dan tidak pernah mencintainya sedikitpun agar aku tampak lebih meyakinkan.

Ia tersenyum, kemudian mengacak-acak poniku.

“aku hanya bertanya. Bukan berarti aku juga berpikiran seperti itu.” Jawabnya. “lagipula perempuan itu makhluk yang mudah jatuh cinta, bukan?” lanjutnya dengan tertawa.

Aku hanya tersenyum dengan berusaha mengiyakan. Apapun itu, aku iyakan saja. Meskipun apa yang ia nyatakan salah, tapi sejujurnya jatuh cinta itu berbeda dengan perasaan lainnya. Mungkin dengan menyukai seseorang, perasaan itu akan berlangsung singkat dan cepat. Namun yang aku tahu, jatuh cinta adalah hal yang sangat membekas. Sukar hilang, meskipun partikel yang mereka sebut-sebut dengan 'waktu' pun belum tentu bisa melenyapkannya secara utuh.

“bagaimana dengan laki-laki? Mereka justru lebih mudah jatuh cinta, bukan?” timpalku sambil menaikkan satu alisku.

“tentu saja.” Ucapnya dengan tertawa. “dan kali ini aku jatuh cinta denganmu.” Lanjutnya sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, mengisyaratkan agar aku merahasiakan semuanya.

Syok dengan pernyataannya yang tiba-tiba, aku pun mengerjapkan mataku berkali-kali, kemudian terkikik geli. Aku mendorong tubuhnya dengan agak keras, tapi tubuhnya yang sigap itu tidak membuatnya terjatuh ke belakang dan justru kembali berdiri tepat di depanku. Ia pernah menyatakan perasaannya padaku sebelumnya. tapi aku yang tidak terbiasa dengan sikapnya yang sedikit agresif terkadang membuatku tidak tahu harus bersikap apa.

“apa-apaan, sih?” kesalku sambil tersenyum malu dan memandangnya dengan sedikit memelas. Sora hanya tertawa menyadari kebodohannya sendiri. Tawa itu sangat lebar. Aku memandanginya yang sedang tertawa dan berbicara. Entah apa yang sedang diucapkannya sekarang, aku hanya terfokus dengan matanya yang menyipit karena tawanya. Aku pun secara tiba-tiba dapat mencium aroma jeruk itu lagi. Membuatku kembali ingat pada hari itu. Hari di mana aku dan dia pulang terlambat bersama. Sinar senja masuk melalui celah jendela kelas, di saat itulah pria di depanku ini merenggut ciuman pertamaku. Aku tidak melakukan perlawanan apapun karena lagi-lagi aku tidak tahu harus bersikap apa. Toh, aku juga tidak merasakan apapun. Yang kuingat hanyalah aroma jeruk yang sama darinya. Ciuman pertamaku benar-benar tidak seperti apa yang aku pikirkan sebelumnya ataupun apa yang seharusnya aku rasakan saat itu juga. Namun lucunya, aku sama sekali tidak keberatan jika itu Sora.

“Sejujurnya aku membawa payung.” Aku Sora.

“Eh? Apa?!”

Aku terjengit kaget. Hanya itu yang bisa tertangkap telingaku setelah tersadar dari lamunan akibat aroma jeruk miliknya. Membawa payung katanya? Aku benar-benar tidak habis pikir.

“Kenapa tidak daritadi, sih?” ucapku kesal dan kemudian menjewer telinga kirinya.

“iya, aduh, aduh! Hentikan!” keluhnya. Aku pun melepas tanganku dan membiarkannya mengambil payung dari tasnya.

“Ayo pulang bersama-sama.” Ucapnya lirih. “Rumahku dekat. Jadi, kita ke rumahku, lalu aku antarkan kau pulang.”

Sora menatapku lembut tepat di kedua bola mataku. Mata itu kini terlihat sendu. Sendu yang berbeda. Aku tidak tahu apa artinya, tapi aku terus mencoba memperhatikan kedua matanya satu persatu.

“Tenang saja. Aku antarkan naik mobil.” Lanjutnya dengan senyum lebar.

Aku tertegun. Ini bukan karena ia mau mengantarkanku pulang di hari hujan atau diantarkan dengan mobilnya. Melihat senyum itu, dan pandangan lembut itu, aku terdiam. Aku hanya mengangguk pelan dan pandanganku masih melekat di wajahnya.

Sekarang aku telah menyadari sesuatu. Setelah semua yang ia lakukan, dan setelah apa yang ia coba tunjukkan padaku, aku telah menyadarinya.

Rupanya aku...

Aku tidak mencintainya.



Jumat, 15 Januari 2016

Dasar Bocah

     Gelap. Sejauh mata memandang, malam ini masih belum kau temukan seberkas cahaya dari bulan maupun bintang. Belakangan cuaca bisa menjadi sangat ekstrim disini. Yang pada awalnya terasa terik, dalam satu kedipan mata bisa berubah menjadi gelap. Dan dalam satu kedipan mata lagi, kau akan melihat pohon-pohon itu merunduk tertiup angin.

     Terlalu dahsyat. Kau pasti akan bertanya orang macam apa yang masih sanggup berdiri tanpa berteduh disaat badai. Kau justru mulai memikirkan dirimu sendiri, saat jemuran pakaian itu lupa diangkat, meninggalkan jejak basah ketika kau menyadari bahwa sedikit saja kau terlambat mengangkatnya, tidak ada lagi yang bisa kau gunakan besok pagi.

     Pemanas air terdengar bersiul. Kau mulai merasa tenang dan bergegas membuat teh hangat. Entah siapa yang akan kau ajak dalam pesta minum tehmu kali ini. Mungkin badai? Bahkan ia tak menyambutmu dengan baik, untuk apa kau undang untuk pesta minum teh?

     Tak ada obrolan dari acara interaktif untuk malam ini. Petir yang bersahut-sahutan bisa jadi alasannya. Yang jelas, kau tidak akan merelakan benda berhargamu itu hanya untuk menemani rasa kesepianmu sekarang. Teh hangat saja sudah cukup, bukan? Oh, dan lihat. Mungkin kilat-kilat petir itu juga sedang berusaha menyapamu lewat jendela rumah.

     Kau duduk manis di atas sofa sambil membaca beberapa majalah lama. Kobaran api di tungku adalah satu-satunya penerangan untukmu. Sudah biasa, pikirmu. Listrik yang tak kunjung menyala hingga malam ini, mungkin bisa saja berlanjut hingga esok pagi. Setidaknya kau merasa hangat, sehingga akan lebih baik jika malam ini kau tidur di depan perapian daripada di dalam kamar.

     Telepon rumah berdering. Memaksamu untuk beranjak dari sofa. Sembari menggerutu, kau mengangkat telepon itu. Siapa gerangan orang yang mengganggu hari santainya ini?

     "Tuan, aku menemukan Cherry!"

     Air mukamu berubah drastis. Tak ada yang kau sesali setelah beranjak dari sofa. Kau justru mulai mempertanyakan banyak hal.

     "Paman? Kubilang aku menemukan Cherry."

      Bocah itu membuyarkan lamunanmu. Membuatmu menjadi cemas pada dua hal sekarang.

     "Apa yang kau lakukan, hah? Mana ibumu?"

     "Seperti biasa, paman. Mereka pergi kerja."

     Seakan tak ada lagi pertanyaan yang bisa kau tanyakan, sedangkan otakmu sudah berisi kekhawatiran yang memuncak. Kali ini apa yang dilakukan bocah itu? Disaat badai pula! Kau tidak akan pernah mengerti dengan jalan pikirannya.

     "Cepatlah ke rumahku! Ada teh hangat yang akan menyambutmu."

     Sebuah senyum yang tak terlihat olehmu kini berkembang, seiring kau menyebut pesta minum teh sebagai acara favoritnya.

     "Baik, paman!"

     Ia pun memutus sambungan telepon. Kau duduk kembali di atas sofa, kali ini dengan lemas. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan bocah itu?

     "Bodoh." Gumammu.

     Tapi kau tak bisa memungkiri. Ia yang bodoh, tapi ialah yang paling kau sayangi. Satu-satunya orang yang menemanimu di hari tuanya, ketika anak semata wayangmu sibuk dengan pekerjaan dan anak-anak mereka. Jangankan untuk menanyakan kabarmu, kau sendiri tak tahu dimana anakmu berada. Sangat ironi jika kau menemukan anak tetanggamu lebih peduli daripada anakmu sendiri, bukan? Memang, hidup terkadang seironi itu. Toh, karena pada akhirnya kau tidak akan peduli dengan pertalian darah hanya untuk menganggap seseorang sebagai keluarga.



Transparent Butterfly


Jumat, 27 November 2015

Apa Karena Kini Ia...

Sebenarnya aku tidak tega melihatnya seperti itu. Permainannya yang kacau menjadi bukti bahwa ia lelah bermimpi. Lihat saja dirinya. ia masih duduk termenung di kursi pianonya. Aku tak tahu kemana arah pandangan matanya. Toh sekalipun aku tahu, sama sekali tidak ada hal yang bisa dilihatnya.

Jemari itu kembali bermain di atas tuts piano. Aku yakin permainannya kali ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Dan bahkan menurutku, kali ini ia bermain lebih buruk dari sebelumnya.

Ia berteriak, kemudian membanting tangannya ke atas tuts. Lagi-lagi ia menangis, dan aku sudah bosan mendengarnya. Dia sudah gila.

"Mengapa?"

Hanya itu yang terucap darinya. Mengapa, mengapa, dan mengapa. Apa ia tidak memiliki pertanyaan selain mengapa?

Aku mendekatinya. Ia pun berhenti menangis begitu mendengar langkah kakiku.

"Bisa kau hentikan?" ucapku datar. Sebisa mungkin kuungkapkan rasa bosanku melihat perlakuannya seminggu terakhir. "Kau ini sudah besar. Sadarlah!"

Ia meraba-raba sekelilingnya. Ketika ia menemukan keberadaanku, ia mendorongku.

"Kau yang seharusnya mengerti perasaanku!" bentaknya.

Hening. Entah mengapa aku benci suasana seperti ini. Ia kembali menangis, dan aku pun mendecih.

"Henti-"

"Kau ini saudara macam apa?"

Kini ia berdiri, menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia tidak pernah terlihat semarah ini.

Ia menggenggam kedua bahuku. Aku tahu ia sedang menahan sebuah gejolak dalam dirinya. Dan aku tidak akan terkejut jika sebentar lagi rumah akan berantakan karena ulahnya. Yang aku ingat, ia adalah tipe orang yang suka memendam perasaan. Sekali ia marah, ia akan menumpahkan semuanya, tidak tanggung-tanggung. Jika emosi telah melahap akal sehatnya, bisa jadi akulah yang dibunuh setelah ini.

"Mengertilah..." ucapnya lirih.

Air matanya kembali menetes. Tatapan matanya akan selalu hampa walau akulah yang ingin dilihatnya. Sebenarnya aku tidak suka melihatnya menangis seperti ini sepanjang hari. Tapi apa yang bisa kulakukan? Ia sibuk meratapi dirinya sendiri, tanpa mau kuberitahu akan hal baru yang harusnya ia temui.

"Tolong, mengertilah"

Seakan ia tahu apa yang ada di pikiranku, ia kembali mengucapkannya. Jujur saja, aku tidak bisa mengerti perasaanmu. Aku tidak bisa mengerti apa yang menjadi pikiranmu selama ini, dan aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiranmu sejauh ini dalam menghadapi cobaan yang menimpamu. Bagaimana aku bisa mengerti jika kau sendiri selalu menangis setiap hari? Kau pikir aku suka mendengarmu seperti itu? Kau pikir menangis bisa menyelesaikan masalah? Kau pikir dengan menangis kau bisa melihat kembali? Aku ingin kau tahu, ada banyak hal diluar sana yang tidak membutuhkan penglihatanmu. Ada hal yang hanya ingin didengar olehmu, bahkan hanya ingin dilihat oleh mata hatimu saja.

Ia terduduk di lantai sambil menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut. Lihatlah dirinya... Begitu kacau. Semangat hidup tak ada lagi dalam kobaran matanya. Dingin, kaku, dan mati. Mungkin itulah yang ada di pikirannya sekarang.

"Biarkan aku menangis."

Pernyataan konyol. Oh, ayolah! Sudah satu minggu lamanya aku membiarkanmu menangis seperti ini.

"Kau hanya membuang-buang waktu." jawabku seadanya. Ia pun berhenti menangis.

"Apa ini sikap orang yang optimis?" ucapku lagi. Aku yakin pertanyaanku kali ini benar-benar menohok hatinya.

Ia masih terdiam. Kali ini ia tak bisa menahan emosinya. Ingin rasanya ia menghancurkan semua yang ada di ruangan itu. Ingin rasanya ia melontarkan amarah dan sumpah serapah pada siapapun. Jangankan aku, ia pun tak tahu sebenarnya siapa yang salah. Ia tak tahu mengapa ia bisa semarah ini.

Apa ia marah kepada Tuhan?

Apa karena kini ia...

buta?





Transparent Butterfly